×

Warning

JUser: :_load: Unable to load user with ID: 512

Indonesia Terlena 10 Tahun Featured

Pertumbuhan Ekonomi Terus Menurun

Kupang - Pendapat menarik disampaikan Wakil Ketua Umum KADIN, Rosan Roeslani saat pembukaan Rakor KADIN NTT, Sabtu (27/6) di Hotel Aston Kupang. Dirinya mengatakan, Indonesia terlena selama 10 tahun menikamti pertumbunan ekonomi di atas enam persen tanpa mempersiapkan fondasi yang kuat. Akibatnya ekonomi Indonesia terus mengalami penurunan seiring menurunnya pertumbuhan ekonomi Cina dari 12 persen kini menjadi 7,5 persen.


"Kita terlena selama kurang lebih 10 tahun. Tahun 2012 pertumbuhan ekonomi kita di atas enam persen. Itu karena kita mengandalkan kenaikan harga komoditi seiring tingginya permintaan Cina. Saat itu pertumbuhan ekonomi di Cina mencapai 12 persen. Terutama batu bara permintaan sangat tinggi dan harga sampai di luar kontrol. Seiring menurunnya pertumbuhan ekonomi Cina, permintaan akan komoditi juga terus menurun. Akibatnya kita juga merasakan perlambatan ekonomi karena kita mengandalkan ekspor komoditi," kata Roslan.

Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Perbankan dan Finansial ini mengatakan, seharusnya ada kontrol yang jelas terhadap harga komoditi terutama batu bara sehingga harga tidak terlalu mengalami penurunan drastis ketika permintaan mengalami penurunan. \"Yang terjadi saat ini adalah sangat ditentukan oleh suplay and demand (penawaran dan permintaan)," ungkapnya.

Namun, dirinya melihat peluang perekonomian Indonesia untuk tumbuh kembali tetap terbuka. Selain karena semakin baiknya ekonomi global, juga karena semakin gencarnya pembangunan di bidang infrastruktur, pariwisata dan industri. Menurutnya, tiga sektor ini sangat penting dalam memacu pertumbuhan ekonomi saat ini. "Saat ekonomi kita sedang tumbuh dengan baik 10 tahun lalu, kita lupa memperkuat pembangunan di tiga bidang ini," ujarnya di hadapan sekira 200 pelaku usaha Kota Kupang itu.

Roslan juga mengatakan, pasar bebas ASEAN (MEA) yang akan berlaku Desember 2015 ini merupakan peluang sekaligus tantangan. Peluang karena menurutnya Indonesia merupakan pasar terbesar di ASEAN. "40 persen pasar ASEAN itu ada di Indoensia. Dari total 530 juta penduduk ASEAN, 250 juta ada di Indonesia," kata Roslan. Karena itu, lanjutnya, KADIN menyebut MEA adalah Indonesia yang diperluas. Menurutnya, ini peluang yang harus dimanfaatkan dengan baik. Jika tidak maka bisa direbut oleh negara lain.

Sementara tantangan menurutnya adalah terletak pada SDM. Menurutnya SDM pelaku usaha di Indonesia perlu disiapkan dengan baik untuk menghadapi persaingan di MEA nanti. Dirinya mencontohkan saat ini ada ribuan pelaku usaha dari negara ASEAN yang belajar Bahasan Indonesia. "Apa tujuan mereka? Karena Indonesia adalah pasar yang potensial sehingga mereka belajar bahasa kita sebagai persiapan untuk menghadapi MEA," katanya.

Wagub NTT, Benny Litelnoni juga mengakui pertumbuhan ekonomi di NTT mengalami perlambatan seiring melambatnya ekonomi nasional. Namun, NTT sedikit berbangga karena tahun 2014 pertumbuhan ekonomi NTT sedikit di atas nasional. \\\"Tahun 2014 ekonomi NTT tumbuh 5,04 persen atau menurun dibanding tahun sebelumnya 5,42 persen. Namun, masih lebih baik dari nasional yang hanya 5,02 pertsen," ungkapnya.

Menurutnya, ekonomi di NTT ditopang oleh UMKM. Karena itu, pertumbuhan ekonomi di NTT sangat ditentukan oleh kerjasama dengan berbagi pihak. "NTT jangan pikir ekonomi manufaktur melainkan mulai dari apa yang dimiliki," ujarnya.

Hal yang sama juga dikatakan Ketua KADIN NTT, Abraham Paul Liyanto yang meminta semua elemen di NTT bekerja sama untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah. Khusus menghadapi MEA, anggota DPD RI ini mengatakan, KADIN NTT melakukan persiapan antara lain dengan dilaksanakannya Rakor KADIN yang menghadirkan pengamat ekonomi nasional, Didik J. Rachbini. "KADIN NTT akan melakukan persiapan khusus menghadapi MEA. SDM menjadi fokus karena dengan SDM yang baik akan menghadapi persaingan," ujarnya.
Sumber : Timor Express Senin, 29 Juni 2015

Last modified on Wednesday, 08 July 2015 07:53

Go to top